Rabu, 09 Maret 2011


                        
          Burung kakatua
                             Cacatuidae

Ciri khas yang membedakan burung kakatua dengan burung lain adalah bulu jambul atau mahkota di ubun-ubun kepalanya.  Bulu jambul ini dapat ditegakkan  jika burung kakatua merasa terkejut, gembira atau ketakutan.  Warna bulu jambul sangat bervariasi.  Warna putih pada kakatua putih besar jambul putih (Cacatua alba), warna kuning pada kakatua putih besar jambul kuning (Cacatua galerita) dan kakatua putih kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), warna jingga pada kakatua putih kecil jambul jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata), warna merah muda pada kakatua maluku (Cacatua moluccensis) dan warna hitam pada kakatua raja (Probosciger aterrimus).Bentuk jambulnya cukup bervariasi juga.  Berbentuk payung mengembang pada kakatua putih besar jambul putih, berbentuk rumbai-rumbai pada kakatua raja, berbentuk kucir pada kakatua putih besar jambul kuning dan kakatua putih kecil jambul kuning.
Kakatua menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi dan tepi hutan; juga hutan monsun (Nusa Tenggara), hutan yang tinggi bersemak, semak yang pohonnya jarang dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Dari permukaan laut sampai ketinggian 900 m (sulawesi), 1520 m (Lombok), 1000 m (sumba), 700 m (flores), 950+ m (sudan) 500+ m (timor). sedangkan untuk jenis kakatua maluku (bahasa Inggris: Salmon-crested Cockatoo) biasanya hidup sendiri, berpasangan dan kelompok kecil; dahulu di pohon tidur berkelompok hingga 16 ekor. Umumnya tidak mencolok, kecuali pada saat terbang ke dan dari lokasi pohon tidur ketika petang dan menjelang fajar. Walaupun terlihat terbang di atas kanopi tapi kebanyakan terbang di bawah batas kanopi. Mencari makan dengan tenang di kanopi dan lapisan tengah kanopi dan memiliki sebaran lokal di daerah seram, ambon, haruku dan saparua . Kakatua menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi, hutan yang rusak dan hidup diatas permukaan laut sampai ketinggian 1000 m.
Burung kakatua berkembang biak dengan bertelur. telur burung kakatua mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur.kebanyakan burung kakatua membuat sarang, dan menetaskan telurnya dengan mengeraminya di sarangnya itu. Sarang bisa dibuat secara sederhana dari tumpukan rumput, ranting, atau batu atau sekedar kaisan di tanah berpasir agar sedikit melekuk, sehingga telur yang diletakkan tidak mudah terguling. Namun ada pula jenis-jenis burung kakatua yang membuat sarangnya secara rumit dan indah, atau unik, sama seperti jenis-jenis manyar alias tempua, rangkong ,walet , dan namdur.Anak-anak burung kakatua yang baru menetas umumnya masih lemah, sehingga harus dihangatkan dan disuapi makanan oleh induknya. Kecuali pada jenis-jenis burung gosong, di mana anak-anak burung itu hidup mandiri dalam mencari makanan dan perlindungan. Anak burung gosong bisa segera  berlari beberapa waktu setelah menetas, bahkan ada pula yang sudah mampu terbang.


Pada tahap pelestarian burung kaka tua ini, kegiatan ini difokuskan pada usaha-usaha untuk mengurangi tekanan pada spesies dan meningkatkan usaha pelestariannya, melalui: peningkatan peran aktif masyarakat Sumba, termasuk penduduk desa, pemerintah dan masyarakat umum; memonitor tren jumlah populasi serta penangkapan dan perdagangan Kakatua Sumba dan burung paruh bengkok lainnya; serta mendukung penegakan hukum bagai penangkapan dan perdagangannya.Pada tahap ketiga, tujuan kegiatan lebih difokuskan kepada pembuatan materi yang berkaitan dengan pelestarian burung paruh bengkok di Sumba dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari pelajaran di sekolah dasar. Selain itu peningkatan dukungan masyarakat lokal terhadap pelestarian burung tersebutdan pengurangan jumlah burung kakatua yang ditangkap dan diperdagangkan ke luar pulau juga menjadi tujuan lain yang ingin dicapai.Saat ini pada tahap keempat, pelaksanaan kurikulum muatan lokal merupakan salah satu kegiatan utama di Sumba.Secara umum, pendekatan dilakukan secara terpadu antara penyadartahuan dan pendidikan, pemantauan, serta penegakan hukum yang terbagai menjadi beberapa sub kegiatan, antara lain:
  • Kesadaran dan pendidikan yang difokuskan kepada anak-anak sekolah dan masyarakat umum Sumba, baik yang tinggal di desa maupun di kota. Termasuk di antaranya yaitu penyuluhan di sekolah-sekolah SD, SLTP, SLTA, pelaksanaan program radio, dan penyebaran material cetak serta pemasangan papan informasi tentang pelestarian jenis burung paruh bengkok.
  • Pemantauan populasi Kakatua Sumba di lokasi-lokasi sebarannya, sekaligus perdagangan dan penangkapannya. 
  • Mendorong peran aktif masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH), sebagai ujung tombak dalam menjaga kelestarian Kakatua Sumba dan habitatnya. 
  •   Mendorong praktek penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan Kakatua Sumba, sekaligus sebagai upaya memberikan efek jera bagi para pelaku perdagangan. 
  •      Rehabilitasi dan pengembalian Kakatua Sumba hasil sitaan ke alam.          
  • Mendorong agar pelestarian Kakatua Sumba dan habitatnya menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar